Free 7up Dot Cursors at www.totallyfreecursors.com
ALLNOTESRUGZ: 2011

Selasa, 25 Oktober 2011

Secarik Kertas Itu


Dua bola mata saling menatap tajam. Isyarat saling menyalahkan dan tak mau disalahkan. Itulah yang ada dipikirkan lelaki setengah baya yang baru saja pulang berkencan. Bukanlah lagi seorang ABG yang pergi berdua dengan pacar, tapi suami dari wanita yang dinikahinya sepuluh tahun yang lalu, tepat di hari itu.
10 November 2001. Hari disaksikannya ikatan suci dihadapan para saksi dan penghulu. Akan tetapi catu oleh luka, luka yang tak bisa diobati oleh obat apapun.
“Mas, aku mohon… jangan ceraikan aku.” kata wanita itu lirih.
“Buat apa aku mempertahankan kamu, Ida! Kamu tidak mampu memberikanku seorang pewaris dari harta-hartaku kelak.” sahut Aji kejam.
“Mas harusnya bersabar.” tambahnya meyakinkan.
“Cukup Ida, sudah sepuluh tahun lamanya aku bersabar. Dan kesabaranku ada batasnya!” elak lelaki gagah itu.

Resensi Buku--Baca Dirimu Temukan Takdirmu

AN Ubaedy, 2007. Jakarta: Grafindo.
Baca Dirimu Temukan Takdirmu
Bagaimana mengubah KTM (Kufur Thinking Model)
menjadi STM (Syukur Thinking Model)


Buku ini berisikan model-model kepribadian sehat menurut para ahli psikologi pertumbuhan. Isinya lebih banyak memaparkan optimistic seseorang yang dapat dipengaruhi oleh kepribadian dan potensi manusia. Disini selalu dijelaskan bahwa manusia yang mempunyai kepribadian yang sehat pasti terus menerus memenuhi kebutuhan akan sensasi, variasi, dan tantangan. Mereka cenderung tidak suka melakukan hal-hal rutin dan pasti akan mencari hal baru untuk pengalaman. Mereka mengambil resiko, berspekulasi, dan menyelidiki hal-hal baru, sehingga muncul tegangan baru yang menunjukkan manusia bertumbuh (G. Allpord).
Selain itu, buku ini memaparkan perbedaan pribadi yang bertumbuh dan yang tidak. Manusia yang tidak bertumbuh yaitu manusia neurotis, yaitu mengubah realitas dengan ketakutan ketakutan mereka sendiri, dominant terhadap emosi, kata hati berupa HARUS dan bukan SEBAIKNYA. Sedangkan orang-orang yang realistis yaitu manusia yang memiliki pribadi mau menerima batasan-batasan dan tidak terpukul dengan batasan-batasan tersebut, penuh harapan, mempunyai motivasi, dan optomistik.
Adapun pendapat-pendapat para ahli mengenai manusisa berkepribadian sehat seperti Roger, Maslow, dan From.
Anda baca, dan tentukan mindset anda kemudian…

Selasa, 18 Oktober 2011

NDAHEBO=Tidak Mungkin=Imposibble


Ndahebo??--apa yang ada dipikiran kamu tentang kata itu? Bahasa mana? Apa maksudnya? Apa ada bahasa seperti itu?
TENTU ADA...
Awal mendengarnya saja aku kira bahasa Italiano yang identik dengan huruf o.
Tapi yang aku bayangkan ternyala salah besar. Tentu saja, mana mungkin Ibuku gaul abis tau bahasa Italia. Bahasa itu pertama kalinya diperdengarkan ditelingaku ketika aku mengatakan sesuatu yang membuat ibuku menyela kata itu keras-keras(lantang pula).
Begini percakapan kita saat itu (mau tidur) :
aku : ya besuk aku tangi isuk bu!
ibu : ndahebo kowe tangi isuk.
Karena itu percakapan, ibuku tidak tahu kalo sebenarnya yang ku katakan jika dituliskan menjadi seperti ini "ya besuk aku tangi isuk bu!"
(hahaha,ngekek dewe)
Dan translate "ndahebo" itu sendiri dalam bahasa nasional kita sama dengan "tidak mungkin" (masih tidak percaya)
Hal itu membuat aku tersadar akan sesuatu, begitu miskinnya pengetahuan bahasa idiolekku tentang JAVANESSE, dalam kenyataannya aku terlahir sebagai orang Jawa, Ngayogyakarta-- tapi aku sendiri tidak begitu paham dengan bahasanya. Aku malu dengan diriku sendiri, hidup dalam jaman peleburan budaya, sampai aka merasa itu budaya kotaku sudah tak kental lagi dirasakan (disekelilingku).
Jika aku mempunyai banyak waktu (alias kurang gawean) aku mau membuat data statistik mengenai "Data Anak Tiap KK yang Berbahasa Krama kepada Orang Tua"
Taruhan, ada 60% kah?
Tapi mbog bilih kula niki salah ngira-ngira. Hehe
Bangga menjadi anak Jogja dengan keistimewaannya saja gak cukup membantu budaya kita tetap lestari. Tapi biasakan mencintai dengan menguasai, minimal mempelajari. Disini aku ada link buat kamu-kamu yang ingin belajar bahasa internasional sekaligus tanpa menyepelekan bahasa kultur kita "JAVANESSE punya"
Monggo panjenengan tingali piyambak :) -->
Kamu dapat mengetik sebuah kata yang ingin kamu ketahui versi JAVANESSE dan ENGLISH-nya di link itu.
Semoga membantu :)
Cintai Budaya Negri Sendiri ya dengan MEMBIASAKAN :)

Minggu, 09 Oktober 2011

IMING-IMING GADGET

Tahun 2011,Yeah tahun perombakan teknologi. Dimana semua lapisan masyarakat udah kenal yang namanya teknology, terlebih kalangan remaja #labil yang sering tuh anak-anak ngejek ababil(ABG” Labil) yang dengan gampangnya terseret arus pasar gadget alias terIMING-IMING :)
Dengan memasang muka penuh dengan keinginanan(melas) mereka pasti memaksa orang tua mereka,memohon-mohon sampai berhasil mendapatkan persetujuan pengajuan proposal untuk membeli gadget yang mereka inginkan, lebih tepatnya teknologi berbasis genggaman(canggih ya? Padahal yang dimaksud Hape)
Tentu aja seluler kecil ini sangat canggih apalagi udah ga jaman polyponik lagi. #Android. Yeah ini dia yang baru marak merebah dan menjadi IMING-IMING para rebil(remaja ababil)
Jika ditanya, aku pun juga mau mengikuti perkembangan jaman seluler saat ini. Dan ini dia 3 hape yang menurutku sangat amat menarik untuk dimiliki

Kamis, 06 Oktober 2011

YANG AKU TAU


YANG AKU TAU tentang DUNIA ini :
1.aku hidup diciptain sbg MANUSIA
2.aku bisa melihat dua hal yang berbeda seperti:
-siang dan malam yang berbeda karena terang dan gelap.
-langit dan bumi yang berbeda karena letaknya diatas dan dibawah
-hadiah dan hukuman yang berbeda karena benar salahnya
-awal dan akhir dimana mereka memiliki makna yang sangat berbeda yaitu pertemuan dan perpisahan :(
bahkan ak sempat digombalin pacar ak sendiri,waktu itu aku inget dia tanya apa perbedaan antara aku dan rumus? dia jawab kalau rumus sulit dihapal,kalu kamu sulit dilupakan
(nice chat-up i think*sambil nyengirr)
3.aku punya bagian tubuh lunak tapi multifungsi(otak). Bisa buat berpikir sampai aku lulus sekolah,menangis saat aku sedih atau terluka,bergerak saat aku ingin melangkah,merasa saat aku menemukan berjuta rasa yang ada di dunia ini,dsb.
4.aku hidup berdampingan dengan sesama tapi berbeda(hlohh gimana itu)
yaitu teman,tetangga,saudara,sampai orang lain yang tak ku kenal yang punya karakteristik khusus yang membedakanku dengan mereka semua(padahal kita sama=MANUSIA)
5.aku gak tau kapan aku akan kembali(kepada penciptaku)
itulah hal terindah karena aku disini gak membayangkan hal yang paling mengenaska(mati) terjadi padaku dengan memikirkan kapan waktuku tiba. Cukup dengan memandang kedepan,memandang kehidupan,menjalaninya dan membuat semuanya jadi indah yang ternyata selama yang aku tauorang-orang mayoritas di dunia ini hanya mencari KEBAHAGIAAN(menurutku)
Tapi yang jelas,dunia ini yang aku tau hanya sekedar yang tampak dimataku,karna bagiku aku ini keciiiiiiiiiiil sekali,tak nampak dengan pengetahuan yang hanya sebesar lambung semut(kecil banget,itupun harus diamati pakai mikroskop).
yah kata orang sii "seperti katak dalam tempurung"
gak perlu ambil pusing dengan dunia ini(lebih-lebih urusan duniawi),kita jalani saja layaknya semut-semut yang seringkali hijrah(berpetualang mencari makan) bersama teman-temannya,indah bukan?

Senin, 18 Juli 2011

Pandangan tentang Kehidupan


Sering kali kita sebagai makhluk hidup yang diberi napas secara cuma-cuma tidak pernah memikirkan hal-hal kecil disekitar kita. Tak pernah terbesit pula apa tujuan sebenarnya kita hidup. Mungkin dari berbagai sudut pandang orang dengan macam-macam latar belakang mereka, pasti begitu banyak pandangan tentang kehidupan. Misalnya saja, bagi orang yang percaya penuh pada Ketuhanan, mereka pasti menjawab “tujuan hidup saya adalah mencapai nirwana alias surga”. Lain halnya dengan yang berkelut pada bidang duniawi dengan pikirannya dipenuhi dengan materi, mereka pasti menjawab ”tujuan hidup saya adalah menaklukkan dunia,menjadi orang nomer 1 di jagad raya ini”. Dan pasti terdapat pemikiran dari sosok yang penuh perjuangan yaitu ”tujuan hidup saya adalah bahagia dunia akhirat dan berguna bagi bangsa”. Beda hal pula dengan yang tidak memiliki misi ke depan dia hidup tanpa terarah oleh satu tujuan, pasti dia mengatakan “yang penting hidup”. Sangat miris mendengarnya. Tapi itu realita. Lalu apa tujuan hidup saya, bagaimana dengan anda juga?
Jujur, jika ditanya mengenai tujuan hidup pasti saya belum terbesit oleh suatu pencapaian yang mengharuskan saya untuk merancang ini, melakukan itu, mengusahakan hal seperti ini, dan lain sebagainya. Namun tidak mungkin pula kita hidup, dalam artian sempit saja-melakukan sesuatu tanpa tujuan. Pasti dimana kita menghendaki diri kita berbuat sesuatu maka pasti kita terpacu pada tujuan mengapa kita melakukan hal itu. Tetapi jika kita melakukan hal-hal yang tidak bertujuan pastilah orang menganggap kita “geje” alias gak jelas (bahasa anak jaman sekarang). Untuk itu, diperlukan suatu tujuan dalam hidup kita. Pasti,kenapa? Karena disana kita akan menghemat waktu kita untuk memikirkan suatu hal yang harus kita lakukan dengan “progress” yang kita rancang di dalam otak, sehingga sistem kerja otak sudah menge-set psikomotorik kita untuk melakukan progress tersebut sehingga kita memiliki pencapaian yang berupa standar kualitas personal kita. Jika anda merasa pintar, pasti anda akan menjadi orang yang sukses di bidang akademik dengan gelar-gelar yang meningkatkan harkat anda dalam sosial. Jika anda merasa ahli agama, anda pasti menjadi seorang Ulama yang terpandang dalam masyarakat. Dari semua itu, tujuan-lah yang menjadi final-yielding anda, maka gunakan hidup anda untuk melakukan hal-hal di dalam lingkup tujuan jika anda mengejar kesuksesan, tapi jika anda tak membesitkan itu dalam benak anda, maka cukup dengan kesenangan anda pasti sudah puas dengan hidup yang anda jalani. Karena pada hakikatnya, manusia tidak akan pernah puas dengan hasil yang dicapainya selama dia mengejar kesuksesan.

Minggu, 03 Juli 2011

Dimana letak ke-PROFESIONAL-an seorang PENGAJAR sesungguhnya?

Mungkin memang suatu teori yang penjelasannya sangatlah implisit jika dijabarkan, bahkan tidak akan menemui titik temu dalam prakteknya (karena ini berkenaan dengan sense) dimana hanya dapat dirasakan oleh minoritas, bukan secara global. Tentu saja, menurut UU tentang Guru dan Dosen Pasal 28 ayat 3 butir b menjelaskan bahwa “kemampuan pribadi yang mantap dan stabil emosi, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia” jelas sekali menjabarkan tentang kompetensi kepribadian guru yang professional.
Dapat disimpulkan bahwa seorang pengajar yang professional harus memiliki kestabilan emosi. Dia dapat menempatkan dirinya dimanapun dia bertindak sebagi public figure yang memberi tauladan bagi anak didiknya bagaimanapun keadaannya saat itu, entah dia sedang memiliki banyak masalah sekalipun sedang dilanda kesusahan. Bisakah semua pengajar seperti yang disebutkan pada pasal tersebut?
Lalu bagaimana dengan banyaknya kasus-kasus akademik seperti : seorang guru kagol (bahasa indonesianya tidak mau lagi/ kecewa) mengajar anak didiknya yang memiliki perilaku menyimpang (brutal), ada lagi seorang guru malas mengajar karena kelelahan dengan aktivitasnya diluar mengajar. Tidakkah mereka memikirkan kode etik guru yang fungsinya menitikberatkan pada peraturan perilaku guru dalam profesinya?
Sungguh, suatu hal yang rumit untuk dipikirkan karena mudah dalam berteori tetapi susah dalam prakteknya. Dari semua guru maupun dosen yang pernah saya anut pengajarannya, ada salah seorang dosen yang mengatakan pada saya “asal suasana pembelajaran itu senang, murid senang terhadap dosen, dosen juga senang terhadap anak didiknya maka tidak akan berat menjalani pembelajaran itu. Jadi sesungguhnya point yang ingin saya utarakan disini adalah bagaimana seorang pengajar berstrategi dalam menciptakan suasana mayoritas (dimana semua anak didik suka dengan pembelajarannya) sehingga dengan sendirinya makna ke-PROFESIONAL-an itu akan muncul dengan sendirinya tanpa dipaksakan dalam metode pengajarannya. (rgl_view)

Kamis, 19 Mei 2011

The Three Wisdoms for my Children!

Hmm, nice topic! Bayangkan dalam waktu kurang dari 2 menit membuat pidato yang kerangkanya ada intro, reason, example, dan conclusion. Lalu aku memilih topik itu diantara dua lainnya yang disuguhkan yang tidak menarik perhatian mataku. Jujur aku bukan orang yang cekatan dalam mengembangkan pikiran karena aku sangatlah lamban untuk berpikir spontanitas. Jadi apapun yang ada dipikaranku saat itu adalah “I can’t do this speech”. But so far so good I think! Soalnya aku bisa melalui ujian Speaking itu dengan jawaban yang menurutku itu sudah cukup dan mencakup bahasan mengenai tiga kebijakan yang kuberikan pada anak-anakku. Aku menulisnya di lembaran HVS alias hand-out yang berisikan materi Real Speech. Impromptu, but a little bit note, aku menjawab pertanyaan dari topik itu dari pemikiran-pemikiran sepintas yang keluar dari otakku yang masih dibilang wawasanku sempit. Dan aku mampu merangkainya dalam sebuah point-point dari sudut pandangku sendiri. Tiga kebijakan yang nantinya akan aku beri kepada anak-anakku adalah:

Jumat, 06 Mei 2011

PROBLEM--means--How to Solve?


While we were founded by problem of our life, we must sure feel lonely in this world; “no ones care and no ones blink to know what happened to me” it sometimes appears in our mind. Then thinking, if i don't need someone to share or can solving the problem by myself. It is a behavior that indicate “you're weak” and you want to tell everybody stoutly “I'm strong”. Truly the God never give us a problem more than  our capability constraint, and we are demanded to solve our problem with taking a wisdom. Exactly, I'll give several comprehensions about “what is the problem actually” and how to solve it clearly with the difference of people's characteristics. First, you explain the problem in your meaning in a shorter word. I'll give you example; I inclined my problem like aninspiration. Then you think why you choose that word to be your parable of problem. Evidently, I know if problem must be solved with the best solution which I decided definitely to make the problem is clear. As I forward, inspiration is the things that must be found their roots, approached that make me understand, knew with all my heart, researched the reason, shared the solution, and built the result. Certainly, it must have liked a working paper of scientific; there are the introduction, the background, the content, and the conclusion. That's why I choose the term of “inspiration” to determine about solving problem.
Well, include the differences of special characteristic, people in general has the same things -- finding the best solution to solve their problem. Definitely, everyone must be perfectionist to give their end product of ability to each other which make they get a respect from anybody else. Furthermore, if you know about your ability deep in your self, you can reach the clear solution toward your personality. You accept  your own self is the way you are you can easily have a life. You never say “that's life” by receiving a bad news in your day. Then, you believe in your ability to reach your dream or willing. You mark the word in your mind “there's nothing impossible” you're sure that your dream comes true. After that you care about your ability to revolve about your solution for clearing the problem. Everybody has a limited-ability that has designed by God. Lastly, you direct your program to solve the problem for progressing the positive thinking and guiding self-confidence. From that's all you can earn your clear solution and face  your problem with well-known about your capacity and ability.

Selasa, 15 Maret 2011

THE SEVEN HABITS OF HIGHLY EFECTIVE PEOPLE

The Seven Habits of Highly Effective People suggests a discipline for our personal dealings with people which would be undoubtedly valuable if people stopped to think about it.
-- James C. Fletcher, Director, NASA

In The Seven Habits of Highly Effective People, Stephen Covey serves up a seven-course meal on how to take control of one's life and become the complete, fulfilling person one envisions. It is a satisfying, energetic, step-by-step book that is applicable for personal and business progress.
-- Roger Staubach, NFL Hall of Fame quarterback

THE SEVEN HABITS OF HIGHLY EFFECTIVE PEOPLE brought to you by FlyHeart

Paradigms and Principles

The Personality and Character Ethics
The character ethic taught that there are basic principles of effective living, and that people can only experience true success and enduring happiness as they learn and integrate these principles into their basic character.
Other parts of the personality approach were clearly manipulative, even deceptive, encouraging people to use techniques to get other people to like them, or to fake interest in the hobbies of others to get out of them what they wanted, or to use the "power look," or to intimidate their way through life.
Some of this literature acknowledged character as an ingredient of success, but tended to compartmentalize it rather than recognize it as foundational and catalytic. Reference to the character ethic became mostly lip service; the basic thrust was quick-fix influence techniques, power strategies, communication skills, and positive attitudes.
This personality ethic, I began to realize, was the subconscious source of the solutions Sandra and I were attempting to use with our son. As I thought more deeply about the difference between the personality and character ethics, I realized that Sandra and I had been getting social mileage out of our children's good behavior, and, in our eyes, this son simply didn't measure up. Our image of ourselves, and our role as good, caring parents was even deeper than our image of our son and perhaps influenced it. There was a lot more wrapped up in the way we were seeing and handling the problem than our concern for our son's welfare.
Primary and Secondary Greatness
I am not suggesting that elements of the personality ethic -- personality growth, communication skill training, and education in the field of influence strategies and positive thinking -- are not beneficial, in fact sometimes essential for success. I believe they are. But these are secondary, not primary traits.
Perhaps, in utilizing our human capacity to build on the foundation of generations before us, we have inadvertently become so focused on our own building that we have forgotten the foundation that holds it up; or in reaping for so long where we have not sown, perhaps we have forgotten the need to sow.
If I try to use human influence strategies and tactics of how to get other people to do what I want, to work better, to be more motivated, to like me and each other -- while my character is fundamentally flawed, marked by duplicity and insincerity -- then, in the long run, I cannot be successful. My duplicity will breed distrust, and everything I do -- even using so-called good human relations techniques -- will be perceived as manipulative. It simply makes no difference how good the rhetoric is or even how good the intentions are; if there is little or no trust, there is no foundation for permanent success. Only basic goodness gives life to technique.
To focus on technique is like cramming your way through school. You sometimes get by, perhaps even get good grades, but if you don’t pay the price day in and day out, you ever achieve true mastery of the subjects you study or develop an educated mind.
Many people with secondary greatness -- that is, social recognition for their talents -- lack primary greatness or goodness in their character. Sooner or later, you'll see this in every long-term relationship they have, whether it is with a business associate, a spouse, a friend, or a teenage child going through an identity crisis. It is character that communicates most eloquently. As Emerson once put it, "What you are shouts so loudly in my ears that I cannot hear what you say."
There are, of course, situations where people have character strength but they lack communication skills, and that undoubtedly affects the quality of relationships as well. But the effects are still secondary.
In the last analysis, what we are communicates far more eloquently than anything we say or do.
We all know it. There are people we trust absolutely because we know their character. Whether they're eloquent or not, whether they have the human relations techniques or not, we trust them, and we work successfully with them.
The Power of a Paradigm
The Seven Habits of Highly Effective People embody many of the fundamental principles of human effectiveness. These habits are basic; they are primary. They represent the internalization of correct principles upon which enduring happiness and success are based.
You might work on your behavior -- you could try harder, be more diligent, double your speed. But your efforts would only succeed in getting you to the wrong place faster.
You might work on your attitude -- you could think more positively. You still wouldn't get to the right place, but perhaps you wouldn't care. Your attitude would be so positive, you'd be happy wherever you were.
The more aware we are of our basic paradigms, maps, or assumptions, and the extent to which we have been influenced by our experience, the more we can take responsibility for those paradigms, examine them, test them against reality, listen to others and be open to their perceptions, thereby getting a larger picture and a far more objective view.
The Power of a Paradigm Shift
Not all Paradigm Shifts are in positive directions. As we have observed, the shift from the character ethic to the personality ethic has drawn us away from the very roots that nourish true success and happiness.
But whether they shift us in positive or negative directions, whether they are instantaneous or developmental, Paradigm Shifts move us from one way of seeing the world to another. And those shifts create powerful change. Our paradigms, correct or incorrect, are the sources of our attitudes and behaviors, and ultimately our relationships with others.
It becomes obvious that if we want to make relatively minor changes in our lives, we can perhaps appropriately focus on our attitudes and behaviors. But if we want to make significant, quantum change, we need to work on our basic paradigms.
Seeing and Being
The approach we had first taken with him was the outgrowth of years of conditioning and experience in the personality ethic.
Our Paradigms are the way we "see" the world or circumstances -- not in terms of our visual sense of sight, but in terms of perceiving, understanding, and interpreting. Paradigms are inseparable from character. Being is seeing in the human dimension. And what we see is highly interrelated to what we are. We can't go very far to change our seeing without simultaneously changing our being, and vice versa.
Even in my apparently instantaneous paradigm-shifting experience that morning on the subway, my change of vision was a result of -- and limited by -- my basic character.
I'm sure there are people who, even suddenly understanding the true situation, would have felt no more than a twinge of regret or vague guilt as they continued to sit in embarrassed silence beside the grieving, confused man. On the other hand, I am equally certain there are people who would have been far more sensitive in the first place, who may have recognized that a deeper problem existed and reached out to understand and help before I did.
Paradigms are powerful because they create the lens through which we see the world. The power of a Paradigm Shift is the essential power of quantum change, whether that shift is an instantaneous or a slow and deliberate process.
The Principle-Centered Paradigm
While individuals may look at their own lives and interactions in terms of paradigms or maps emerging out of their experience and conditioning, these maps are not the territory. They are a "subjective reality," only an attempt to describe the territory. The principles I am referring to are not esoteric, mysterious, or "religious" ideas. There is not one principle taught in this book that is unique to any specific faith or religion, including my own. These principles are a part of every major enduring religion, as well as enduring social philosophies and ethical systems. They are self-evident and can easily be validated by any individual. Principles are guidelines for human conduct that are proven to have enduring, permanent value. They're fundamental. They're essentially unarguable because they are self-evident. One way to quickly grasp the self-evident nature of principles is to simply consider the absurdity of attempting to live an effective life based on their opposites. I doubt that anyone would seriously consider unfairness, deceit, baseness, uselessness, mediocrity, or degeneration to be a solid foundation for lasting happiness and success. Although people may argue about how these principles are defined or manifested or achieved, there seems to be an innate consciousness and awareness that they exist.
Principles of Growth and Change
We know and accept this fact or principle of process in the area of physical things, but to understand it in emotional areas, in human relations, and even in the area of personal character is less common and more difficult. And even if we understand it, to accept it and to live in harmony with it are even less common and more difficult. Consequently, we sometimes look for a shortcut, expecting to be able to skip some of these vital steps in order to save time and effort and still reap the desired result.
But what happens when we attempt to shortcut a natural process in our growth and development?
If you are only an average tennis player but decide to play at a higher level in order to make a better impression, what will result? Would positive thinking alone enable you to compete effectively against a professional?
What if you were to lead your friends to believe you could play the piano at concert hall level while your actual present skill was that of a beginner?
The answers are obvious. It is simply impossible to violate, ignore, or shortcut this development process. It is contrary to nature, and attempting to seek such a shortcut only results in disappointment and frustration.
The Way We See the Problem is the Problem
People are intrigued when they see good things happening in the lives of individuals, families, and organizations that are based on solid principles. They admire such personal strength and maturity, such family unity and teamwork, such adaptive synergistic organizational culture.
The personality ethic tells me there must be something out there -- some new planner or seminar that will help me handle all these pressures in a more efficient way.
But is there a chance that efficiency is not the answer? Is getting more things done in less time going to make a difference -- or will it just increase the pace at which I react to the people and circumstances that seem to control my life?
Whether people see it or not, many are becoming disillusioned with the empty promises of the personality ethic. As I travel around the country and work with organizations, I find that long-term thinking executives are simply turned off by psyche up psychology and "motivational" speakers who have nothing more to share than entertaining stories mingled with platitudes.
They want substance; they want process. They want more than aspirin and band-aids. They want to solve the chronic underlying problems and focus on the principles that bring long-term results.
A New Level of Thinking
Albert Einstein observed, "The significant problems we face cannot be solved at the same level of thinking we were at when we created them.
As we look around us and within us and recognize the problems created as we live and interact within the personality ethic, we begin to realize that these are deep, fundamental problems that cannot be solved on the superficial level on which they were created.
We need a new level, a deeper level of thinking -- a paradigm based on the principles that accurately describe the territory of effective human being and interacting -- to solve these deep concerns.
This new level of thinking is what Seven Habits of Highly Effective People is about. It's a principle-centered, character-based, "Inside-Out" approach to personal and interpersonal effectiveness.
"Inside-Out" means to start first with self; even more fundamentally, to start with the most inside part of self -- with your paradigms, your character, and your motives.

Kamis, 10 Maret 2011

j-rocks

J-rocks Profile
Terbentuk : 9 November 2003
Band asal : Jakarta
Pensonil : Iman Taufik Rachman - Imam (vokal, gitar)
Sony Ismail Robbayani - Soni (gitar)
Swara Wimayoga - Wima (bass)
Anton Rudi Kelces - Anton (drum)
Aliran : Alternative-Rock,Japanese pop/rock
Sejarah : J-ROCKS yang berarti Japanesse Rock sebenarnya merupakan band yang mengadaptasi aliran Rock atau Pop-Rock , akan tetapi musik-musiknya condong ke musik Jepang sehingga menyebabkan merka juga mengusung Japanese style. Ide J-rocks sendiri bermuncul dari sticker yang bertuliskan Rockstar, diharapkan dengan nama JRocks yang berarti huruf J berarti J untuk Jakarta, J untuk aliran Japanesse, J untuk J-musik, dan karekter J untuk Jujur dalam artian memainkan musik dengan Jiwa yang benar-benar dari dalam hati serta Rocks yang menggambarkan bintang Rock besar dalam blatika musik Indonesia.
Tahun 2004 : Mengikuti ajang “Nescafe Get Started” di Jakarta dan memenangkan kompetensi sehingga disponsori oleh Aquarius Musikindo hingga sukses merilis debut album pertamanya Topeng Sahabat.
Tahun 2005 : Menggarap lagu “Serba Salah” dan “Into The Silent” yang menjadi soundtrack Dealova dan memasukkannya ke album Topeng Sahabat yang masih direkam oleh pihak label Aquarius Musikindo.
Tahun 2007 : Merilis album Spirit untuk menunjang popularitasnya dengan memainkan beberapa variasi aliran musik didalamnya antara lain Rock 'n Roll, Waltz, Symphonic Metal, Blues, Classical dengan hits singlenya “Kau Curi lagi” featuring gitarist cewek terkenal Prisa Rianzi dan “Juwita Hati” yang dibuatkan video klipnya di Jepang.
Tahun 2008 : J-Rocks membuat prestasinya dibidang ,usik sebagai satu-satunya band yang dapat rekaman di studio rekaman yang terkenal di United Kingdom yaitu Abbey Road studios. Proses rekaman dan mixing dilakukan selama 4 hari yaitu dari tanggal 12-16 Oktober 2008, dibantu oleh Chris Butler(seorang teknisi rekaman di studio Abbey).
Tahun 2009 : Hasil rekaman di studio Abbey menghasilkan 5 lagu yang kemudian dirilis dalam album EP dengan menjadikan poto personil J-Rocks melewati zebra cross sebagai cover meniru gaya The Beatles.

Fans : J-rockstar / JRS
Twitter : @jrock
Facebook : j-rocks  
Official Website : j-rock.co.id


More information about J-ROCKS :


Comment : Style dan gaya musik J-Rock sangatlah unik dan berbeda walau lebih mengarah gaya’Japanesse’, akan tetapi hanya group band inilah yang memrakarsai Harajuku Style di Indonesia. Selain itu performance J-Rock secara live sangatlah berbeda, mereka mengaransemen musik mereka jauh seperti yang ada di rekaman. Tentu saja hal tersebutlah yang membuat saya lebih memberi nilai plus pada band ini karena banyak kasus-kasus panggung dengan menggunakan lipsing. Yang lebih saya banggakan adalah kostum J-Rocks yang mengenakan hem batik aplikasi sehingga hal tersebut juga memberikan penilaian lain mengenai pandangan melestarikan salah satu budaya Indonesia dan memperkenalkannya pada khalayak umum baik dalam negri maupun manca.













Selasa, 18 Januari 2011

Ketika sebuah ketulusan dibalas dengan kekecewaan

Segala sesuatu bisa menjadi indah jika kita merasa apa yang kita rasakan itu berasal dari hati yang terdalam. Dimana hati bisa berkata dan perkataan itu keluar dengan sendirinya lalu dirangsang oleh motorik yang memegang teguh kejujuran sehingga dusta bukanlah lagi alasan mengapa tidak mau bicara dan malu menjadi penyebab ketidakjujuran. Coba saja kita sebut itu sebuah ketulusan. Murni dan masih asli itu berasal dari hati. Suci bagaikan kelahiran seorang bayi, sama halnya dengan ketulusan yang lahir dari batin sejati dan belum ternoda dengan sebab akibat. Tapi semua itu sering kita salah gunakan menjadi kemunafikan yang menemani prasangka yang identik dengan pemikiran setan. Bukankah apabila kita bicara itu merupakan cerminan dari hati ? lalu apa yang sering orang sebut dengan dusta atau munafik. Tentu aku bisa bayangkan bila kita memberi dan mengharapkan itu kembali, disanalah titik temu yang dapat kita tandai dan namai dengan kemunafikan. Bayangkan saja bila kau memberikan segala usaha dan dayamu tanpa dinilai bahkan dihargai sekalipun, apa yang hatimu katakan? Terima atau tidak ?
Jika jujur kau pasti akan menjawab “tidak” karena itu adalah murni dari pemikiran seorang insan yang berpikir logis. Tapi jika kamu berdusta dengan menjawab “terima” itu yang sering menjadi penyakit hati alias ‘munafik’. Wajar karena kamu tidak ingin menyakiti perasaan yang lain itu dengan menyakiti perasaanmu sendiri. Lain halnya dengan kamu menjawab “terima” tapi itu perkataan jujur dari hatimu dan itulah cerminan pikiranmu. Memang tidak logis menurut saya, tapi hal itulah yang hanya bisa dimengerti dengan afeksi kita bukan pemahaman kognitif ataupun psikomotorik. Dan sering menjadi pertentangan jika kita mengatakan itu dan malahan hal tersebut yang sering dilontarkan banyak orang yang mendengarnya lalu mengatakan “ahh,munafik kau!”
Memang sulit memberi sebuah penggambaran,pemahaman,dan kesadaran bahwa kita itu memang melakukan itu tanpa kesadaran berpikir. Karena itulah kekuatan sang hati yang murni dari dalam sehingga anugrah yang sering kita sebut dengan nama”ketulusan” menjadi kebanggaan diri sendiri. Jangan memikirkan akibat karena jika kita memikirkannya pastilah yang datang sebagai hasil adalah kekecewaan. Dan jika kekecewaan itulah hasil dari ketulusan kita maka kita tak jauh beda dengan munafik, akan tetapi yang ini lebih lama prosesnya.
COBA RENUNGKAN !!!!