Hmm, nice topic! Bayangkan dalam waktu kurang dari 2 menit membuat pidato yang kerangkanya ada intro, reason, example, dan conclusion. Lalu aku memilih topik itu diantara dua lainnya yang disuguhkan yang tidak menarik perhatian mataku. Jujur aku bukan orang yang cekatan dalam mengembangkan pikiran karena aku sangatlah lamban untuk berpikir spontanitas. Jadi apapun yang ada dipikaranku saat itu adalah “I can’t do this speech”. But so far so good I think! Soalnya aku bisa melalui ujian Speaking itu dengan jawaban yang menurutku itu sudah cukup dan mencakup bahasan mengenai tiga kebijakan yang kuberikan pada anak-anakku. Aku menulisnya di lembaran HVS alias hand-out yang berisikan materi Real Speech. Impromptu, but a little bit note, aku menjawab pertanyaan dari topik itu dari pemikiran-pemikiran sepintas yang keluar dari otakku yang masih dibilang wawasanku sempit. Dan aku mampu merangkainya dalam sebuah point-point dari sudut pandangku sendiri. Tiga kebijakan yang nantinya akan aku beri kepada anak-anakku adalah:
Tidak memberikan kepada mereka “aturan yang pasti” which I said “I wont give them a certain rule” dengan alasan jika kita memberikan mereka aturan pasti yang berarti batasan-batasan pada kehidupannya maka secara otomatis dalam psikologi anak pastilah muncul sebuah emosi yang menimbulkan suatu rasa penasaran yang dampak terburuknya melahirkan sebuah kalimat yaitu pemberontakan, karena lazimnya peraturan dibuat untuk dilanggar. Karena menurut pengalamanku sendiri aku anak perempuan satu-satunya yang pastinya dijaga oleh keluarga agar tidak salah bergaul. Dalam artian anak perempuan sangatlah rawan mengenal dunia luar, akan tetapi dunia luar tidak sejahat yang dipikirkan oleh kedua orang tua pada umumnya namun juga tak sebaik yang dipikirkan oleh anak-anak pada khususnya. Memang bukan hal mudah memfilter suatu pergaulan yang diterima dari luar, akan tetapi pikiran seorang anak terus berkembang dan akan terus berkembang selama dia menggunakannya untuk memikirkan hal-hal kecil yang mendorong indra perasanya dalam menentukan sebuah decision. Dan seorang anak akan dengan sendirinya mengerti tentang apa dan bagaimana yang menurutnya itu baik untuk dirinya karena mereka pasti memandang dari segi dampak dan manfaat.
Yang kedua aku bilang “never give them a punishment when they did a fault” yaitu tidak akan memberikan hukuman jika mereka melakukan kesalahan. Mungkin memang sudah lazim dalam lingkup keluarga, jika terdapat anak yanga melakukan kesalahan maka hukumanlah yang pantas untuk mengajarinya menyesal. Dan aku setuju dengan itu karena hukuman memanglah sebuah sanksi yang pasti membuat jera. Akan tetapi kita juga harus melihat dari psikologi anak tersebut dahulu. Hukuman memang pantas buat mereka yang tegar dan tangkas dalam berfihir. Akan tetapi sering ditemui anak dengan psikis dan mental yang lemah dalam artian mereka tidak tahan dengan hukuman yang membuat jera. Mereka lebih menerima pendekatan personal dengan sebuah nasehat-nasehat dan pengarahan yang membuatnya mengerti akan kesalahan yang diperbuatnya. Dan yang akan aku lakukan adalah membuatnya memikirkan tentang kesalahannya dengan pendekatan tersebut tanpa ada hukuman jika memang yang diperbuatnya belum melampaui batas. Dengan begitu pikiran anak akan berkembang dengan sendirinya dengan memikirkan apa yang akan terjadi jika dia melakukan suatu hal yang lebih kita kenal adalah berfikir lebih dulu sebelum bertindak sehingga muncullah rasa tanggunga jawab dalam pribadi anak tersebut.
Terakhir, “I never confine their willing in future” dengan alasan setiap anak memiliki keinginan dalam dirinya yang muncul secara perlahan dan lambat laun membentuk jati diri. Sehingga cita-cita memang tidak langsung tertera dalam pikiran dari lahir, akan tetapi anak menemukannya ketika dia mengarungi kehidupan. Dan kegemaran yang sering kita sebut sebagai hobi sebenarnya merupaan minatnya dalam menjalani kehidupan ini dan suatu saat minat tersebuut dapat berubah menjadi sebuah cita-cita. Dan sering kali orang tua berkehendak terhadap anak mereka. Mereka menjadikan anaknya sebagai objek pewujud keinginannya tanpa mau tahu tentang apa yang diinginkan anak oleh anak tersebut. Dan aku tidak akan membatasi keinginan mereka dan tidak ingin anakku melakukan hal yang aku inginkan karena mereka pasti akan bertindak seperti cerminan diri kita. Karena aku yakin seorang anak kaya akan imaginasi yang mangantarkannya pada berbagai keinginan yang membuatnya lebih actualis dalam memcerminkan apa-apa yang ada dalam pikirannya tanpa kita batasi selama hala tersebut tidak menyimbang pada hal yang bersifat lazim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar