Free 7up Dot Cursors at www.totallyfreecursors.com
ALLNOTESRUGZ: problem
Tampilkan postingan dengan label problem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label problem. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2011

PROBLEM--means--How to Solve?


While we were founded by problem of our life, we must sure feel lonely in this world; “no ones care and no ones blink to know what happened to me” it sometimes appears in our mind. Then thinking, if i don't need someone to share or can solving the problem by myself. It is a behavior that indicate “you're weak” and you want to tell everybody stoutly “I'm strong”. Truly the God never give us a problem more than  our capability constraint, and we are demanded to solve our problem with taking a wisdom. Exactly, I'll give several comprehensions about “what is the problem actually” and how to solve it clearly with the difference of people's characteristics. First, you explain the problem in your meaning in a shorter word. I'll give you example; I inclined my problem like aninspiration. Then you think why you choose that word to be your parable of problem. Evidently, I know if problem must be solved with the best solution which I decided definitely to make the problem is clear. As I forward, inspiration is the things that must be found their roots, approached that make me understand, knew with all my heart, researched the reason, shared the solution, and built the result. Certainly, it must have liked a working paper of scientific; there are the introduction, the background, the content, and the conclusion. That's why I choose the term of “inspiration” to determine about solving problem.
Well, include the differences of special characteristic, people in general has the same things -- finding the best solution to solve their problem. Definitely, everyone must be perfectionist to give their end product of ability to each other which make they get a respect from anybody else. Furthermore, if you know about your ability deep in your self, you can reach the clear solution toward your personality. You accept  your own self is the way you are you can easily have a life. You never say “that's life” by receiving a bad news in your day. Then, you believe in your ability to reach your dream or willing. You mark the word in your mind “there's nothing impossible” you're sure that your dream comes true. After that you care about your ability to revolve about your solution for clearing the problem. Everybody has a limited-ability that has designed by God. Lastly, you direct your program to solve the problem for progressing the positive thinking and guiding self-confidence. From that's all you can earn your clear solution and face  your problem with well-known about your capacity and ability.

Selasa, 18 Januari 2011

Ketika sebuah ketulusan dibalas dengan kekecewaan

Segala sesuatu bisa menjadi indah jika kita merasa apa yang kita rasakan itu berasal dari hati yang terdalam. Dimana hati bisa berkata dan perkataan itu keluar dengan sendirinya lalu dirangsang oleh motorik yang memegang teguh kejujuran sehingga dusta bukanlah lagi alasan mengapa tidak mau bicara dan malu menjadi penyebab ketidakjujuran. Coba saja kita sebut itu sebuah ketulusan. Murni dan masih asli itu berasal dari hati. Suci bagaikan kelahiran seorang bayi, sama halnya dengan ketulusan yang lahir dari batin sejati dan belum ternoda dengan sebab akibat. Tapi semua itu sering kita salah gunakan menjadi kemunafikan yang menemani prasangka yang identik dengan pemikiran setan. Bukankah apabila kita bicara itu merupakan cerminan dari hati ? lalu apa yang sering orang sebut dengan dusta atau munafik. Tentu aku bisa bayangkan bila kita memberi dan mengharapkan itu kembali, disanalah titik temu yang dapat kita tandai dan namai dengan kemunafikan. Bayangkan saja bila kau memberikan segala usaha dan dayamu tanpa dinilai bahkan dihargai sekalipun, apa yang hatimu katakan? Terima atau tidak ?
Jika jujur kau pasti akan menjawab “tidak” karena itu adalah murni dari pemikiran seorang insan yang berpikir logis. Tapi jika kamu berdusta dengan menjawab “terima” itu yang sering menjadi penyakit hati alias ‘munafik’. Wajar karena kamu tidak ingin menyakiti perasaan yang lain itu dengan menyakiti perasaanmu sendiri. Lain halnya dengan kamu menjawab “terima” tapi itu perkataan jujur dari hatimu dan itulah cerminan pikiranmu. Memang tidak logis menurut saya, tapi hal itulah yang hanya bisa dimengerti dengan afeksi kita bukan pemahaman kognitif ataupun psikomotorik. Dan sering menjadi pertentangan jika kita mengatakan itu dan malahan hal tersebut yang sering dilontarkan banyak orang yang mendengarnya lalu mengatakan “ahh,munafik kau!”
Memang sulit memberi sebuah penggambaran,pemahaman,dan kesadaran bahwa kita itu memang melakukan itu tanpa kesadaran berpikir. Karena itulah kekuatan sang hati yang murni dari dalam sehingga anugrah yang sering kita sebut dengan nama”ketulusan” menjadi kebanggaan diri sendiri. Jangan memikirkan akibat karena jika kita memikirkannya pastilah yang datang sebagai hasil adalah kekecewaan. Dan jika kekecewaan itulah hasil dari ketulusan kita maka kita tak jauh beda dengan munafik, akan tetapi yang ini lebih lama prosesnya.
COBA RENUNGKAN !!!!