Mungkin memang suatu teori yang penjelasannya sangatlah implisit jika dijabarkan, bahkan tidak akan menemui titik temu dalam prakteknya (karena ini berkenaan dengan sense) dimana hanya dapat dirasakan oleh minoritas, bukan secara global. Tentu saja, menurut UU tentang Guru dan Dosen Pasal 28 ayat 3 butir b menjelaskan bahwa “kemampuan pribadi yang mantap dan stabil emosi, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia” jelas sekali menjabarkan tentang kompetensi kepribadian guru yang professional.
Dapat disimpulkan bahwa seorang pengajar yang professional harus memiliki kestabilan emosi. Dia dapat menempatkan dirinya dimanapun dia bertindak sebagi public figure yang memberi tauladan bagi anak didiknya bagaimanapun keadaannya saat itu, entah dia sedang memiliki banyak masalah sekalipun sedang dilanda kesusahan. Bisakah semua pengajar seperti yang disebutkan pada pasal tersebut?
Lalu bagaimana dengan banyaknya kasus-kasus akademik seperti : seorang guru kagol (bahasa indonesianya tidak mau lagi/ kecewa) mengajar anak didiknya yang memiliki perilaku menyimpang (brutal), ada lagi seorang guru malas mengajar karena kelelahan dengan aktivitasnya diluar mengajar. Tidakkah mereka memikirkan kode etik guru yang fungsinya menitikberatkan pada peraturan perilaku guru dalam profesinya?
Sungguh, suatu hal yang rumit untuk dipikirkan karena mudah dalam berteori tetapi susah dalam prakteknya. Dari semua guru maupun dosen yang pernah saya anut pengajarannya, ada salah seorang dosen yang mengatakan pada saya “asal suasana pembelajaran itu senang, murid senang terhadap dosen, dosen juga senang terhadap anak didiknya maka tidak akan berat menjalani pembelajaran itu. Jadi sesungguhnya point yang ingin saya utarakan disini adalah bagaimana seorang pengajar berstrategi dalam menciptakan suasana mayoritas (dimana semua anak didik suka dengan pembelajarannya) sehingga dengan sendirinya makna ke-PROFESIONAL-an itu akan muncul dengan sendirinya tanpa dipaksakan dalam metode pengajarannya. (rgl_view)
salah satu alasan kenapa saya tidak ingin jadi dosen.... ho ho ho
BalasHapusmungkin "alasan" kamu itu bisa jd tantangan
BalasHapus