Free 7up Dot Cursors at www.totallyfreecursors.com
ALLNOTESRUGZ: Secarik Kertas Itu

Selasa, 25 Oktober 2011

Secarik Kertas Itu


Dua bola mata saling menatap tajam. Isyarat saling menyalahkan dan tak mau disalahkan. Itulah yang ada dipikirkan lelaki setengah baya yang baru saja pulang berkencan. Bukanlah lagi seorang ABG yang pergi berdua dengan pacar, tapi suami dari wanita yang dinikahinya sepuluh tahun yang lalu, tepat di hari itu.
10 November 2001. Hari disaksikannya ikatan suci dihadapan para saksi dan penghulu. Akan tetapi catu oleh luka, luka yang tak bisa diobati oleh obat apapun.
“Mas, aku mohon… jangan ceraikan aku.” kata wanita itu lirih.
“Buat apa aku mempertahankan kamu, Ida! Kamu tidak mampu memberikanku seorang pewaris dari harta-hartaku kelak.” sahut Aji kejam.
“Mas harusnya bersabar.” tambahnya meyakinkan.
“Cukup Ida, sudah sepuluh tahun lamanya aku bersabar. Dan kesabaranku ada batasnya!” elak lelaki gagah itu.
***
Ida hanyalah seorang gadis desa yang ditemuinya sepuluh tahun lalu dalam perjalanan pulang menuju stasiun. Di stasiun kereta kecil itulah tumbuh rasa saling tertarik. Senyum Ida waktu itu telah menggoda lelaki jejaka yang tak kunjung beristri karena belum menemui jodohnya. Dan disinilah Aji memboyong gadis itu ke kota untuk dinikahi. Janji sehidup semati telah dibukukan dalam catatan sipil negeri dan KUA. Hingga perjalanan hidup bersama yang panjang dan tiada arti ini hanya menjadi sebuah penyesalan.
***
Ida lari, sambil terisak-isak menangis menuju kamar. Entah apa yang harus ia lakukan saat itu. matanya yang tengah sembab mengambil secarik kertas dari meja riasnya, ia tuliskan kata-kata sambil mengucap pipinya yang basah akan air mata.
 
Mas Aji yang kucintai,
Mungkin memang aku tidak bisa membahagianku sampai saat ini.
Dan benar adanya semua kata-katamu tempo dulu di stasiun itu.
Aku tak akan pernah lupa ketika kau mengucapkan kalimat ini,
“Ida, aku ingin melepas masa lajangku untuk mengaruhi bahtera kehidupan baru bersamamu—sehidup semati. Sampai aku tua nanti, kau yang menghuni hatiku ini.
Sungguh indah waktu itu,membuatku terlena sesaat, dan berpikir kemudian.
Maaf aku baru bisa mewujudkan kata-katamu itu sekarang Mas.
Dan mungkin ini saat yang tepat untuk aku tunjukkan bukti cintaku padmu—sehidup semati.
Kau yang hidup, dan aku yang mati Mas…
Karena aku tak sanggup melihatmu dengan dia.
Semoga kau bahagia dengannya Mas, bersama Wati.
 
Diambilnya tali jangkar yang kemudian ia ikat pada cagak langit-langit rumahnya. Ia ambil kursi yang selalu dipakai untuk berias. Diletakkan kepalanya pada gantungan tali jangkar itu. Kursi pancatannya disamparkan hingga ia bergelantungan diatas. Tertarik semua urat lehernya, dan akhirnya ia hembuskan nafas terakhir.
 
***
Pukul 22.11, jam terus malangkahkan detiknya. Suara yang dihasilkan Ida saat menyamparkan kusi panjatannya terdengar dari ruang tengah tepat Aji sedang berduaan dengan Wati. Wanita yang sudah berkencan dan dibawa pulang oleh suaminya. Mereka lari menuju kamar Ida. Sungguh tragis. Melihat istri yang dinikahinya tanpa memberikan momongan, hanya mati sia-sia karena sebuah kecemburuan. Tak mampu melihat realita yang merobek-robek hatinya yang tipis bagai membran. Ida memang istri yang setia, tapi penuh kekurangan di hadapan Aji. Wati terkejut melihat hal itu. tanpa banyak berkata ia kemudian bergegas meninggalkan Aji yang tengah kebingungan. Tanpa menghiraukan bagaimana perasaan Aji, lelaki yang ia goda hatinya untuk mendua, Wati pulang bersama tukang ojek di depan kompleks rumah mereka. Kini hanya tinggal Aji bersama mayat istrinya. Sungguh naas nasib Ida. Tapi lebih memilukan nasib Aji. Lelaki tangguh itu tak hanya ditinggal mati istri syahnya, tapi seketika ditinggal pergi kekasih gelapnya yang memberikan tempat naungan untuk jauh dari masalah rumah.
Aji melihat secarik kertas dibawah gelas minuman kesukaannya. Ida sengaja membuat kopi untuk suaminya yang selalu diminum sepulangnya dari kerja. Dan kopi itu diletakkan diatas meja rias jika tak kunjung diminum. Dibacanya secarik kertas itu. Basah, air matanya menetes membuta tulisan tangan istrinya membleber tembus dibalik kertas. Kata-kata dikertas itu sungguh menghujam jantungnya, serasa dihantam baja seberas seratus ton. Hatinya remuk, hancur berkeping-keping karena sebuah penyesalan.
Tanpa pikir panjang, ia ambil telepon genggamnya dan menelepon polsek setempat.
“Pak, saya melaporkan telah terjadi pembunuhan di Komplek Mandakan A3, nomor 11 Pak.” katanya lemas.
Itulah kata-kata terakhir yang dilontarkan Aji saat itu, penyesalannya dibayar oleh suatu pengakuan diri sebagai pelaku terbunuhnya Ida, yang memang secara tidak langsung pelakunya adalah ia sendiri.
cerpen woeragil-31/10/2011


 
 

2 komentar:

  1. Luar biasa.., Tetap semangat tuk gairahkan hidup ini..:)

    BalasHapus
  2. trima kasih..
    insya allah tetap semangat buat berkarya :)
    wish u luck too

    BalasHapus