Free 7up Dot Cursors at www.totallyfreecursors.com
ALLNOTESRUGZ: Juli 2011

Senin, 18 Juli 2011

Pandangan tentang Kehidupan


Sering kali kita sebagai makhluk hidup yang diberi napas secara cuma-cuma tidak pernah memikirkan hal-hal kecil disekitar kita. Tak pernah terbesit pula apa tujuan sebenarnya kita hidup. Mungkin dari berbagai sudut pandang orang dengan macam-macam latar belakang mereka, pasti begitu banyak pandangan tentang kehidupan. Misalnya saja, bagi orang yang percaya penuh pada Ketuhanan, mereka pasti menjawab “tujuan hidup saya adalah mencapai nirwana alias surga”. Lain halnya dengan yang berkelut pada bidang duniawi dengan pikirannya dipenuhi dengan materi, mereka pasti menjawab ”tujuan hidup saya adalah menaklukkan dunia,menjadi orang nomer 1 di jagad raya ini”. Dan pasti terdapat pemikiran dari sosok yang penuh perjuangan yaitu ”tujuan hidup saya adalah bahagia dunia akhirat dan berguna bagi bangsa”. Beda hal pula dengan yang tidak memiliki misi ke depan dia hidup tanpa terarah oleh satu tujuan, pasti dia mengatakan “yang penting hidup”. Sangat miris mendengarnya. Tapi itu realita. Lalu apa tujuan hidup saya, bagaimana dengan anda juga?
Jujur, jika ditanya mengenai tujuan hidup pasti saya belum terbesit oleh suatu pencapaian yang mengharuskan saya untuk merancang ini, melakukan itu, mengusahakan hal seperti ini, dan lain sebagainya. Namun tidak mungkin pula kita hidup, dalam artian sempit saja-melakukan sesuatu tanpa tujuan. Pasti dimana kita menghendaki diri kita berbuat sesuatu maka pasti kita terpacu pada tujuan mengapa kita melakukan hal itu. Tetapi jika kita melakukan hal-hal yang tidak bertujuan pastilah orang menganggap kita “geje” alias gak jelas (bahasa anak jaman sekarang). Untuk itu, diperlukan suatu tujuan dalam hidup kita. Pasti,kenapa? Karena disana kita akan menghemat waktu kita untuk memikirkan suatu hal yang harus kita lakukan dengan “progress” yang kita rancang di dalam otak, sehingga sistem kerja otak sudah menge-set psikomotorik kita untuk melakukan progress tersebut sehingga kita memiliki pencapaian yang berupa standar kualitas personal kita. Jika anda merasa pintar, pasti anda akan menjadi orang yang sukses di bidang akademik dengan gelar-gelar yang meningkatkan harkat anda dalam sosial. Jika anda merasa ahli agama, anda pasti menjadi seorang Ulama yang terpandang dalam masyarakat. Dari semua itu, tujuan-lah yang menjadi final-yielding anda, maka gunakan hidup anda untuk melakukan hal-hal di dalam lingkup tujuan jika anda mengejar kesuksesan, tapi jika anda tak membesitkan itu dalam benak anda, maka cukup dengan kesenangan anda pasti sudah puas dengan hidup yang anda jalani. Karena pada hakikatnya, manusia tidak akan pernah puas dengan hasil yang dicapainya selama dia mengejar kesuksesan.

Minggu, 03 Juli 2011

Dimana letak ke-PROFESIONAL-an seorang PENGAJAR sesungguhnya?

Mungkin memang suatu teori yang penjelasannya sangatlah implisit jika dijabarkan, bahkan tidak akan menemui titik temu dalam prakteknya (karena ini berkenaan dengan sense) dimana hanya dapat dirasakan oleh minoritas, bukan secara global. Tentu saja, menurut UU tentang Guru dan Dosen Pasal 28 ayat 3 butir b menjelaskan bahwa “kemampuan pribadi yang mantap dan stabil emosi, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia” jelas sekali menjabarkan tentang kompetensi kepribadian guru yang professional.
Dapat disimpulkan bahwa seorang pengajar yang professional harus memiliki kestabilan emosi. Dia dapat menempatkan dirinya dimanapun dia bertindak sebagi public figure yang memberi tauladan bagi anak didiknya bagaimanapun keadaannya saat itu, entah dia sedang memiliki banyak masalah sekalipun sedang dilanda kesusahan. Bisakah semua pengajar seperti yang disebutkan pada pasal tersebut?
Lalu bagaimana dengan banyaknya kasus-kasus akademik seperti : seorang guru kagol (bahasa indonesianya tidak mau lagi/ kecewa) mengajar anak didiknya yang memiliki perilaku menyimpang (brutal), ada lagi seorang guru malas mengajar karena kelelahan dengan aktivitasnya diluar mengajar. Tidakkah mereka memikirkan kode etik guru yang fungsinya menitikberatkan pada peraturan perilaku guru dalam profesinya?
Sungguh, suatu hal yang rumit untuk dipikirkan karena mudah dalam berteori tetapi susah dalam prakteknya. Dari semua guru maupun dosen yang pernah saya anut pengajarannya, ada salah seorang dosen yang mengatakan pada saya “asal suasana pembelajaran itu senang, murid senang terhadap dosen, dosen juga senang terhadap anak didiknya maka tidak akan berat menjalani pembelajaran itu. Jadi sesungguhnya point yang ingin saya utarakan disini adalah bagaimana seorang pengajar berstrategi dalam menciptakan suasana mayoritas (dimana semua anak didik suka dengan pembelajarannya) sehingga dengan sendirinya makna ke-PROFESIONAL-an itu akan muncul dengan sendirinya tanpa dipaksakan dalam metode pengajarannya. (rgl_view)