Segala sesuatu bisa menjadi indah jika kita merasa apa yang kita rasakan itu berasal dari hati yang terdalam. Dimana hati bisa berkata dan perkataan itu keluar dengan sendirinya lalu dirangsang oleh motorik yang memegang teguh kejujuran sehingga dusta bukanlah lagi alasan mengapa tidak mau bicara dan malu menjadi penyebab ketidakjujuran. Coba saja kita sebut itu sebuah ketulusan. Murni dan masih asli itu berasal dari hati. Suci bagaikan kelahiran seorang bayi, sama halnya dengan ketulusan yang lahir dari batin sejati dan belum ternoda dengan sebab akibat. Tapi semua itu sering kita salah gunakan menjadi kemunafikan yang menemani prasangka yang identik dengan pemikiran setan. Bukankah apabila kita bicara itu merupakan cerminan dari hati ? lalu apa yang sering orang sebut dengan dusta atau munafik. Tentu aku bisa bayangkan bila kita memberi dan mengharapkan itu kembali, disanalah titik temu yang dapat kita tandai dan namai dengan kemunafikan. Bayangkan saja bila kau memberikan segala usaha dan dayamu tanpa dinilai bahkan dihargai sekalipun, apa yang hatimu katakan? Terima atau tidak ?Jika jujur kau pasti akan menjawab “tidak” karena itu adalah murni dari pemikiran seorang insan yang berpikir logis. Tapi jika kamu berdusta dengan menjawab “terima” itu yang sering menjadi penyakit hati alias ‘munafik’. Wajar karena kamu tidak ingin menyakiti perasaan yang lain itu dengan menyakiti perasaanmu sendiri. Lain halnya dengan kamu menjawab “terima” tapi itu perkataan jujur dari hatimu dan itulah cerminan pikiranmu. Memang tidak logis menurut saya, tapi hal itulah yang hanya bisa dimengerti dengan afeksi kita bukan pemahaman kognitif ataupun psikomotorik. Dan sering menjadi pertentangan jika kita mengatakan itu dan malahan hal tersebut yang sering dilontarkan banyak orang yang mendengarnya lalu mengatakan “ahh,munafik kau!”
Memang sulit memberi sebuah penggambaran,pemahaman,dan kesadaran bahwa kita itu memang melakukan itu tanpa kesadaran berpikir. Karena itulah kekuatan sang hati yang murni dari dalam sehingga anugrah yang sering kita sebut dengan nama”ketulusan” menjadi kebanggaan diri sendiri. Jangan memikirkan akibat karena jika kita memikirkannya pastilah yang datang sebagai hasil adalah kekecewaan. Dan jika kekecewaan itulah hasil dari ketulusan kita maka kita tak jauh beda dengan munafik, akan tetapi yang ini lebih lama prosesnya.
COBA RENUNGKAN !!!!